rifky pradana | 11 Oct 06:20 2009
Picon

Gerilya Salib di Serambi Mekkah & Ranah Minang.

Tak perlu lagi diperdebatkan, betapa besar kontribusi Aceh bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak terhitung jumlah materi yang disalurkan warga Aceh untuk membantu seluruh warga NKRI di masa lalu. Juga banyak sekali tokoh pejuang dari Aceh yang begitu gigih menentang pasukan penjajah.

Sejarah juga mencatat betapa besar peran Aceh bagi penyebaran Islam di Indonesia. Raja-raja yang pernah memimpin Aceh senantiasa menggiatkan dakwah Islam ke seluruh penjuru Nusantara. Mereka selalu mengirimkan para juru dakwahnya ke semua daerah untuk menegakkan Islam di Indonesia. Hasilnya, Islam pun tersebar secara luas.

Sudah sangat panjang perjalanan Islam di Aceh. Buku ini me-
review perjalanan Aceh dan perannya dalam mengembangkan Islam. Secara umum, buku ini dibadi menjadi dunia tema besar. 

Bagian
pertama, bicara soal upaya umat Islam di Aceh menghadapi upaya pemurtadan yang terjadi sebelum musibah tsunami besar datang pada tahun 2004. Bagian kedua, berkisah soal upaya pemurtadan yang dilakukan dengan memanfaatkan musibah tsunami.

Sejarah mencatat, sejak tahun 674 masehi, sudah berdiri kampung Islam di pesisir barat Aceh. Mereka yang tinggal di kampung ini adalah para pendatang dari jazirah Arab. Artinya, jauh sebelum penjajahan terjadi di Indonesia, Islam sudah menancapkan tonggaknya di Aceh. Karena begitu besar perannya dalam penyebaran Islam, Aceh pun kemudian dijuluki Serambi Makkah.

Warna Islam yang begitu kuat pun membuat Aceh menjadi salah satu wilayah yang dituju penjajah Portugis. Selain untuk menggapai kekuasaan dan kekayaan,
penjajah memang memiliki tujuan untuk menyebarkan Injil. Karena itu, para penjajah yang pernah menduduki Indonesia pun tidak senang melihat Islam berkembang di Aceh.

Pada abad 15 dan 16, Portugis pun memasuki wilayah Aceh. Mereka menjarah kekayaan alam, serta terus-menerus memburu para tokoh perjuangan melawan penjajah, serta ulama. Pada awal abad 16, kegigihan para pejuang berhasil mengusir Portugis dari Aceh. 

Setelah Portugis diusir, datanglah penjajah Belanda. Misi menjari wilayah jajahan dan sumber kekayaan pun ditunggangi dengan misi menyebarkan Injil.

 

Begitu keras perlawanan yang diberikan para pejuang Aceh ini. Akibatnya, pihak penjajah pun berkeyakinan bahwa pertempuran fisik tidak akan bisa digunakan untuk menundukkan Aceh. Disusunlah strategi adu domba dengan Snouck Hurgronje sebagai tokohnya.

Tapi semua itu
tidak berhasil membuat Aceh lantas meluruhkan warna Islamnya.

 

Penjajahan ratusan tahun yang juga membawa misi pemurtadan tak membuat Aceh berubah. Islam tetap menjadi pegangan. Nilai-nilai Islam tetap menjadi warna dominan bagi dinamika masyarakat Aceh. Misi Jepang yang datang kemudian dengan membawa Dewa Matahari pun tak mampu membuat aceh berubah warna.

Lepas dari penjajahan, muncul 'penjajah' baru yang bernama tsunami. Peristiwa ini telah menghancurkan Aceh. Misi
bantuan pun datang dari berbagai penjuru. Hal ini pun membuat sebagian pihak menggunakan bantuan sebagai kemasan untuk menebarkan misi agama. Mereka ingin memurtadkan warga Aceh.

Pengakuan Vernon Brewer, aktivis gerakan misionaris Worldhelp menjadi buktinya. Saat diwawancarai Washington Post Brewer mengakui bahwa pihaknya menangkut 300 anak Aceh ke Jakarta. Mereka akan disekolahkan di sejumlah sekolah Kristen. Selain itu, banyak pula sumbangan yang didalamnya ditemukan simbol salib dan tulisan-tulisan bernada pemurtadan. Itu semua adalah rangkaian dari gerakan pemurtadhan yang dijalankan dengan kedok bantuan.

Buku ini menjadi semacam dokumentasi atas berbagai aktivitas pemurtadan itu. Beberapa foto di bagian akhir buku ini, menjadi bukti pelengkap yang menguatkan dugaan adanya pemurtadan tersebut. Bagi para penentu kebijakan, buku ini menjadi semacam warning akan posisi masyarakat Aceh yang terus-menerus dicoba untuk
digoyahkan keimanannya.

 

*

Resensi buku : Gerilya Salib di Serambi Mekkah

http://swaramuslim.net/more.php?id=A5332_0_1_0_M

*

 

Ranah Minang sebagai salah satu basis Islam di Indonesia, kini sedang digrogoti oleh gerakan Kristenisasi.

 

Upaya penyebaran agama kristen di Ranah Minag tidak hanya terjadi sekarang ini saja, jauh sebelumnya telah dimulai sejak zaman penjajahan. Gerakan kristenisasi ini dilakukan secara terorganisisr, sistematis, dan didukung dengan dana yang besar.

 

Tujuan dari gerakan kristenisasi adalah untuk memperlemah akidah umat Islam dan sekaligus memurtadkan dari agamanya secara bertahap.

 

Kasus-kasus kristenisasi dan usaha pendangkalan akidah umat Islam sesungguhnya telah banyak dan telah berlangsung sejak lama.

 

Cara yang dilakukan tidak hanya dengan cara-cara halus, tetapi juga melalui cara sangat kasar dan tidak simpatik. Untuk mencapai tujuan itu mereka selalu menggunakan waktu dan kesempatan sehingga umat Islam terkecoh dengan gerakan yang mereka lakukan.

 

Buku yang ada di hadapan anda ini menjelaskan tentang gerakan kristenisasi di Ranah Minang. Buku ini merupakan gambaran dari kepungan dan cengkeraman Kristenisasi di Ranah Minang dengan mengemukakan fakta dan data serta analisis yang memadai dari kasus-kasus yang muncul ke permukaan.

 

*

Sinopsis Buku : Ranah Minang Ditengah Cengkeraman Kristenisasi 

http://bumiaksara.co.id/detail_b_ba.php?id=32

*

 

Minangkabau dikenal dengan dengan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Bahkan Ranah Minang adalah tempat lahirnya ulama-ulama besar. Tapi, kenapa Kristenisasi kian berkembang pesat di sana ?. 

Kabarnya sudah 1.000 orang Minangkabau yang sudah berhasil dikristenkan.

Berikut wawancara wartawan Cyber Sabili Adhes Satria dengan Sekretaris Pesantren Terpadu Serambi Makkah, Irwandi di Padang Panjang, Sumatera Barat beberapa waktu lalu. 

Beliau juga salah seorang aktivis muda
Paga Nagari yang selama ini concern menangkal kristenisasi di Sumatera Barat. 

Apa benar usaha Kristenisasi telah menyusup ke Sumatera Barat (Sumbar) ?.
Bukan masuk lagi, tapi
sudah berkembang pesat

Buktinya apa ?.

Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, Kristenisasi di Minangkabau telah berjalan selama 400 tahun yang lampau, yaitu sejak datangnya orang Kristen Eropa ke negeri ini. Rombongan mereka terdiri dari pedagang dengan uangnya, pendeta dengan Injilnya dan tentara dengan bedilnya.

Hasilnya ialah berdirinya tidak kurang 10 gereja di pusat-pusat kota di Minangkabau. Pada tahap ini, karena mereka telah berhasil mengkristenkan orang Minang. Bahkan mereka mendatangkan etnis Tionghoa, Nias, Batak, Ambon dan Jawa Kristen yang dijadikan sebagai basis dan tameng Kristen di Minangkabau.

Lalu apa lagi ?.

Di masa awal kemerdekaan di bawah pimpinan Soekarno-Hatta, orang Kristen di Sumbar tidak terlalu banyak bergerak dan mereka hanya cukup untuk membina kelompok mereka saja. Alasannya ada dua: Pertama, patriotisme umat Islam sedang membara terhadap penjajah yang Kristen.

Karena itu kalau mereka macam-macam akan dituduh anti nasionalis dan bisa menyulut perpecahan, bahkan kerusuhan. Kedua, Hatta adalah orang Minang yang merupakan anak seorang ulama besar. Karena itu tidak mungkin ia akan membiarkan kampung halamannya dikepung Kristenisasi.

Bagaimana di awal Orde Baru ?.


Di awal Orba, orang Minang seperti kalah perang.
Negeri mereka dicabik-cabik dengan terbaginya tiga provinsi (Riau dan Jambi yang kaya sumber daya alam dan Sumbar yang kaya dengan SDM-nya). Jika Sumatera Tengah tidak diutak-atik, maka akan menjadi kawasan paling hebat di Nusantara. Bahkan di Asia Tenggara. Dengan melemahnya Ranah Minang, maka Kristen melihat peluang yang sangat kondusif untuk menyebarkan misi Kristen untuk bangkit kembali.

Momentum keemasan Kristen ditandai dengan munculnya dukungan militer kepada kaum misionaris dari barak-barak militer terutama untuk membuat gereja-gereja baru di Minangkabau. Selanjutnya ditandai dengan munculnya sejumlah tukang kredit jadi-jadian yang marak tahun 70-an hingga ke desa-desa Minangkabau yang jumlahnya mencapai puluhan ribu
tukang kredit misionaris Kristen.

Hadirnya berbagai proyek pebangunan yang membuka peluang untuk bercokol dan bertambah banyaknya misionaris dan orang Kristen di negeri-negeri Minangkabau, seperti proyek transmigrasi di beberapa wilayah, antara lain : Pasaman Barat, Tanjung Pati, Lunang Silaut), termasuk adanya pengiriman karyawan PNS/militer Kristen ke Ranah Minang, perumnas-perumnas dan lembaga NGO Kristen.

 

Salah satu bisul dari semua ini adalah kasus RS Immanuel di Bukit Tinggi, kasus Kinali Pasaman Barat dan Kasus Gereja di Kubugadang Payakumbuh.

Fakta-fakta apa saja yang Anda temukan di lapangan, terkait Kristenisasi ?.


Diantara fakta itu adalah disebarkannya injil berbahasa Minang oleh para pendeta, baik yang berasal dari Minangkabau maupun dari Barat. Ditemukannya brosur-brosur dan buku-buku Kristen yang ditebarkan di tengah masyarakat Minang.

Ada pula kesurupan oleh Jin Kristen yang telah mencapai 80 orang korban dengan modus yang sama di seluruh Indonesia, seperti yang menimpa mahasiswa Politani Tanjung Pati, FPMIPA Universitas Andalas (Unand), Pesantren Khairu Ummah dan IAIN Imam Bonjol, Padang. Lalu adanya penculikan-penculikan, pemerkosaan dan pemukulan terhadap sejumlah mahasiswa muslim di Padang.

Ini bukti keseriusan misionaris Kristen untuk memurtadkan Ranah Minang. Jadi jelas sangat sistemtis. Nah, kalau orang Minang murtad, ia tidak dapat disebut sebagai orang Minang lagi. 

Jadi saat ini budaya Minang dalam keadaan bahaya ?.

Benar sekali. Bahaya kristenisasi itu sudah di depan mata. Karena itu, orang Minang akan melawan habis-habisan sampai titik darah penghabisan untuk menjaga dan membentengi akidah umat Islam di Ranah Minang. 

Dengan apa orang Minang membentengi diri sehingga kristenisasi gagal di Minangkabau ?.


Secara formal kemasyarakatan (bukan formal pemerintahan) adat istiadat masih berperan kuat di tengah masyarakat Minangkabau. Maka ulama dan kaum adat yang pernah berseteru, pada akhirnya menyadari bahaya yang mengancam mereka (kristenisasi).

Maka dibuatlah secara formal bahwa di Minangkabau berlaku Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, yang implementasinya adalah agama resmi bangsa Minangkabau adalah Islam.

Jika bukan beragama Islam adalah kafir dan dianggap sudah keluar dari Minangkabau. Hal itu sudah terwujud di tengah masyarakat sejak 130 tahun yang lampau, yakni sejak dimaklumatkannya Piagama Marapalam.

Terhadap kasus-kasus pemurtadan, sanksi apa yang diberikan dalam adat Minang ?.


Hukumannya adalah dikeluarkan dari Minangkabau, tidak boleh tinggal di Minangkabau dan tidak boleh ikut lagi diikutkan dalam acara-acara yang diadakan oleh masyarakat Minangkabau. Kemudian, tidak boleh lagi diberi
harta pusaka, baik tinggi maupun rendah.

Jika ia telah punya harta sendiri, maka harus diambil oleh keluarganya. Jika dia melakukan kegiatan misionaris dan pemuratadan, maka
diperlakukan hukum syariat sebagai murtadin yang berbahaya dan harus dibunuh.

Lalu bagaimana Muslim Minang menghadapi Kristenisasi ?.


Setiap pribadi orang Minang itu adalah
Paga Nagari, tagak di kampuang membela kampuang, tagak di nagari membela nagari. Artinya, semua pribadi, apapun kapasitas dan dimana pun dia berada sebagai orang Minang, menjadi wajib hukumnya membela akidah dan kampuang halamannya.

 

Tentu saja, kita tak ingin pertahanan atau benteng nagari di Ranang Minang tak sampai rapuh. 

Saya berharap, kegiatan keislaman harus ditingkatkan, surau-surau dihidupkan lagi. Sehingga kehidupan anak muda sebelum nikah harus disurau. Jika tidak mau, akan diberi sanksi oleh keluarga dan ninik mamaknya. 

Alim ulama dan Ninik Mamak secara bersama-sama perlu memberikan pengawasan dan pembinaan kehidupan beragama. Lebih memfungsikan komponen strategis nagari, seperti pucut adat dan Tuanku nan empat. Jauh lebih penting, menjadikan kristenisasi sebagai musuh bersama orang Minang.

 

*

Kristenisasi Mengancam Minangkabau

http://swaramuslim.com/islam/more.php?id=5582_0_4_0_M

*


Kenyataan bahwa wilayah Minangkabau (yang dulu terkenal sebagai daerah nyaris 100% Muslim) entah bagaimana cara mulainya dan mulai kapan terjadinya, saat ini sudah mulai banyak terdapat bangunan tempat ibadah umat Nasrani yaitu Gereja (termasuk banyak orang Minang yang beragama Non-Muslim ???) menurut kabar konon mulai menimbulkan ‘kekikukan’ diantara anggota masyarakatnya.

 

Tak hanya dalam soal tata kemasyarakatannya yang tak hanya berkait dengan soal pendirian bangunan Gereja saja, namun juga dalam soal dakwah antar masing-masing pemeluk agama yang berbeda, termasuk soal hubungan antar manusianya dalam relasi kemasyarakatan.

 

Kekikukan itu makin menjadi-jadi jika sudah berkaitan dengan soal perayaan hari besar keagamaan yang dilakukan oleh masing-masing pemeluk agamanya. Natal sebagai sebagai salah satu misalnya.

 

Seringkali urusan tidak saling mengucapkan selamat atas hari raya keagamaan itu, dianggap sebagai sebuah sikap intoleransi dari penduduk Muslim Minang yang mencoba teguh menjaga Akidah agamanya.

 

Konon begitulah kabarnya.

 

Sebenarnya, soal itu bukan monopoli terjadi di daerah Sumatera Barat saja, namun di daerah lain juga, termasuk didaerah yang mayoritasnya beragama Non-Muslim.

 

Namun, karena Minang terkenal sebagai wilayah yang kuat agama Islamnya, maka hal ini menjadi lebih sensitif. Hal yang sangat bisa dimengerti, ada soal psikologis, menginat wilayah ini terkenal ketaatan religiusnya yang hanya dapat disamai oleh daerah Aceh.

 

Berkait dengan itu, sesungguhnya dalam hal hubungan kemasyarakatan, khususnya dalam hubungan relasi personal (pertemanan) antara anggota masyarakatnya (manusia dg manusia lainnya) yang saling berbeda agamanya tidak harus dilakukan dengan saling mengucapkan selamat berkenaan dengan hari besar agamanya masing2.

 

Termasuk juga tidak harus saling menghadiri acara peringatan berkenaan dengan hari besar agamanya masing-masing.

 

Hal tersebut karena memang begitulah Islam mengajarkannya dalam konteks hubungan habluminannas.

 

Hal lainnya, MUI sebenarnya sudah pernah memfatwakan soal yang berkaitan dengan hal tersebut.

 

Fatwa MUI tersebut, menurut banyak kalangan, sudah sesuai konteks dan otoritasnya, yaitu diberlakukan (difatwakan) bagi mereka yang menjadi pemeluk agama Islam (bukan kepada mereka yg non-Islam).

 

Perayaan hari besar keagamaan itu sangat erat dan kental aspek soal ritual ibadahnya dan soal prinsip keimanan masing-masing agama, yang bukan sekedar seremonial saja, yang berarti (dalam pemahaman ajaran agama Islam) sudah memasuki ranah Akidah.

 

Sedangkan akidah itu sangatlah erat kaitannya dg kualitas penghayatan dan pengamalan atas ajaran Islam. Berarti disamping soal iman tauhid maka soal akidah itu adalah soal prinsip dalam Islam.

 

Prinsip dasar dakwahnya Rasulullah SAW adalah menegakkan kalimat Tauhid, Laa Illaha Illallah Muhammadur Rasulullah. Dimana Laa Illaha Illallah adalah Kalimat Haq yang harus diimani secara mutlak oleh pemeluknya, sedangkan Muhammadur Rasulullah adalah satu-satunya cara dan hukum/syariat serta akidah untuk menggapai kebenaran kalimat Haq tersebut.

 

Maka berkait dengan soal akidah, boleh dikatakan bahwa tak akan genap keimanannya dan tak akan tegak syariatnya jika akidahnya melenceng.

 

Hal lainnya, tentang fatwa MUI itu mau ditaati atau tidak oleh umat Islam, mengingat hukum formal negara ini tidak mengacu kepada hukum Islam, maka ketaatan atas fatwa itu tentu terserah kepada pribadi masing-masing, toh akibat pertanggungjawabannya di akherat kelak akan ditanggung masing-masing pribadi.

 

Wallahulambishshawab.

 

***

 

Artikel saya yang kemarin, yang judulnya, “Yesus (Isa Ibnu Maryam) lahir tanggal 25 Desember, Betulkah ?” ternyata menuai banyak komentar.  Kalau dari judulnya, sebetulnya komentarnya ‘kan cuma : “ya” atau “tidak”, atau kalau ada alasan yang mendukung dan masih berhubungan boleh jugalah untuk menambah wawasan.  Tetapi komentarnya banyak juga yang menyimpang ya…  itu pun juga nggak apapa.  Kata iklan rokok ‘kan :  Nggak ada loe nggak rame hehe…

 

Walaupun itu bukan barang baru, tetapi bagi sebagian orang (terutama yang muslim) ternyata masih banyak juga yang belum tahu atau baru tahu.

 

Kepalangan, bentar lagi ‘kan hari Natal, maka nggak ada salahnya dong judul itu saya angkat (lagi).  Seperti juga yang kemarin, ini bukan barang baru, tapi kalau dikaji lagi, dengan kemasan baru, tentunya jadi asyik aja, bacanya, juga komentar2nya.  Yang penting tetap santun, tepo seliro dan unggah ungguh harus dijaga.  Sesama sodara aja kadang berantem.  Apalagi ini, kadang ketemu aja ada yang belom pernah.  Jadi pemilihan kosa kata yang tepat perlu dipertimbangkan, dalam berkomentar nantinya.

 

Mengapa Fatwa MUI itu muncul ?.

 

Beberapa tahun silam, pernah suatu saat ada Hari Raya idul Fitri yang jatuhnya hampir bersamaan dengan hari Natal.  Maka ada yang mengusulkan, untuk mempererat rasa toleransi umat beragama agar diadakan “Perayaan Natal Bersama” antara umat Kristen dan umat islam yang merayakan Idul Fitri saat itu.

 

Atas usulan itu, HAMKA memberi pendapat begini :

 

Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah. Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi.. Dan Al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan Al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah satu ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan. Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus”.

 

Prof. Hamka menyebut tradisi Perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau membangun toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan.

 

Mereka yang Muslim disuruh pura-pura khusyu dan menerima ajaran Kristiani, sementara yang beragama Kristen juga disuruh khusyu mendengarkan keterangan tentang Tauhid yang sebetulnya tidak mereka terima.

 

Mungkin itulah salah satu sebab, munculnya Fatwa MUI. 

 

Saya katakan mungkin, karena saat itu saya tidak hadir.  Boro2 hadir, diundang juga kagak hehehe…  Fatwa MUI mengatakan bahwa menghadiri Perayaan Natal dapat merusak aqidah, syubhat, mendekati haram, begitu katanya fatwa MUI.

 

Lalu muncullah pro kontra hingga kini. 

 

Fatwa itu bahkan ada yang minta dicabut saja.  Apalagi sejak kehadiran Prof Dr, Dien Syamsudin di acara Natal pada beberapa tahun silam di saat beliau sedang menjabat ketua umum Muhammadiyah

 

Alasan Dien adalah bahwa perayaan itu bukan ibadah hanya seremoni saja.  Untuk toleransi nggak apa-apa.

 

Sebagai Muslim, kita menghormati keyakinan dan tugas misi kaum Kristen tersebut. Karena itu adalah keyakinan mereka.

 

Beberapa tahun silam, Paus Yohanes Paulus II pun maklum akan perbedaan mendasar antara Kristen dengan Islam. Dalam sebuah wawancara, Paus menyatakan, bahwa Islam bukan agama penyelamatan. (Islam is not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk Salib dan Kebangkitan Yesus (… in Islam, there is no room for the Cross and the Resurrection).

 

Lebih jauh Paus menyatakan : “Jesus is mentioned, but only as a prophet who prepares for the last prophet, Muhammad. There is also mention of Mary, His Virgin Mother, but the tragedy of redemption is completely absent.”

 

For this reason,” Paus menyimpulkan, “not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity.”

 

Lebih jauh tentang pernyataan Paus Yohanes Paulus II, lihat Vittorio Messori (ed.), Crossing The Threshold of Hope by His Holiness John Paul II, (New York: Alfred A. Knopf, 1994).

 

Sewaktu saya di Inggris, setiap perayaan Natal dan Tahun Baru saya diundang oleh supervisor saya yang sangat fanatik agama Kristennya.  Beliau mengundang saya sekeluarga untuk makan malam bersama di rumahnya.  Beliau tanya, saya mau makan apa ?.  Saya jawab, apa saja yang penting halal.  Daging juga boleh asal daging halal, kata saya.  Sebab, di Inggris juga ada dijual daging halal, yang disembelihnya dengan Bismillah.  Akhirnya supaya mudah, ikan saja ya…. oke lah…

 

Di acara tersebut, tidak ada acara baca doa/ nyanyi-nyayi / misa atau apalah saya tidak tahu. 

 

Yang ada hanya makan malam dan ngobrol ngalor ngidul.  Karena yang diundang hanya saya dan keluarga serta satu tamu dari Meksiko yang juga mahasiswanya.

 

Silaturahmi dan undangan makan, siapa saja pasti suka.  Walauapun suasana saat itu suasana natal dan tahun baru, tapi supervisor saya tidak mau ikut campur atau mencampuri aqidah saya, padahal dia adalah aktivis gereja yang sangat kuat dakwah kristennya.

 

Kembali ke Fatwa MUI, saya kira fatwa itu tidak bermaksud mengurangi rasa toleransi antar umat beragama di Indonesia.  Justru fatwa itu untuk saling menghormati dan menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia.  Karena keyakinan itu tidak bisa dipaksa-paksa.  Bagiku agamaku, bagimu agamamu, …

 

*

Fatwa MUI, Perayaan Natal Bersama dan Toleransi Umat Beragama

http://public.kompasiana.com/2009/10/09/fatwa-mui-perayaan-natal-bersama-dan-toleransi-umat-beragama/

***

 

Alhamdulillah !. Sumatra Barat telah kembali menggeliat.

 

Puing-puing memang masih menumpuk. Tanah pekuburan masih basah. Merah lelongsoran yang mengubur ratusan jiwa di beberapa tempat masih akan lama tertutup oleh hijau tetumbuhan. Anak-anak mulai bersekolah, orang-orang ke kantor, para pedagang kembali menjajakan barang jualannya yang masih ala kadarnya.

 

Masih sangat banyak yang harus dikerjakan. Tapi, semua itu menunjukkan bahwa bencana seberapa pun besarnya, tak akan pernah mampu mematahkan langkah manusia yang akan terus mencari jalan untuk maju.''Hidup harus terus berjalan,'' begitu kata penyair. 

Syair yang sesungguhnya tak berhenti pada batas kata-kata itu, melainkan ada dalam kehidupan itu sendiri. Syair itu ada dalam
gerak langkah masyarakat Minang yang baru bangkit dari keterluluhlantakan yang membuat hati kita semua teriris.

 

Syair sesungguhnya ada di kantor, sekolah, pasar, kebun, hingga sawah. Juga, pada diri para pekerja, baik yang sukarela maupun profesional, yang tak henti bergerak untuk meringankan beban sesama akibat entakan bumi itu. Luka akibat gempa itu memang perlu waktu yang sangat lama untuk tersembuhkan. 

Namun, tak perlu menunggu luka mengering buat bangkit. Bangkit adalah
persoalan jiwa. Bukan persoalan keadaan yang melingkupinya. Seberapa pun dalam luka yang tersisa, seberapa pun sulit keadaan yang melilit, siapa pun yang akan memiliki jiwa merdeka, akan selalu mudah untuk bangkit.

 

Masyarakat Minang memiliki modal besar untuk itu. Masyarakat Minang memiliki latar intelektualitas dan sikap kesetaraan atau keegaliteran di atas rata-rata masyarakat lain di negeri ini.

 

Latar religiositas juga termasuk tinggi, yang semestinya juga membentuk hadirnya jiwa merdeka.

Kebangkitan itu sebaiknya tak semata berupa sikap. Kebangkitan itu akan lebih sempurna bila diiringi langkah nyata untuk bertindak lebih baik di masa-masa mendatang. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah beradaptasi dengan
realitas alam sebagai sunnatullah atau ketetapan dan hukum Tuhan yang disebutkan bukan melalui Alquran atau hadis, melainkan melalui alam semesta ini. Masyarakat Minang sudah harus sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa wilayah tersebut memang rawan bencana.

Padang harus dirombak total menjadi kota modern yang sadar dengan kerawanannya atas kemungkinan bencana, baik
gempa maupun tsunami.

 

Ke depan, zona merah harus sepenuhnya dibebaskan dari semua bangunan serta kesibukan manusia. Hunian dan fasilitas aktivitas tersebut perlu direlokasi ke zona hijau dengan bangunan yang harus siap dengan gempa berkekuatan di atas 9 Skala Richter.

 

Zona merah harus sepenuhnya ditujukan untuk kawasan pelestarian alam.

 

Tradisi kota yang 'asal tumbuh' seperti di Indonesia secara umum saatnya diakhiri.

 

Padang berkesempatan menjadi pelopor perombakan total kota menjadi kota modern yang selaras alam.

Tak kalah penting dengan penataan wilayah terkait aspek lingkungan adalah
penataan kehidupan sosial.

 

Masyarakat maju dan kuat adalah masyarakat yang memiliki aspek yang diistilahkan Francis Fukuyama sebagai modal sosial.

 

Kunci utama adalah trust atau rasa percaya satu sama lain yang kekuatannya akan teruji di saat-saat kritis, seperti saat menghadapi musibah baru-baru ini.

 

Dalam beberapa potret, modal sosial tersebut tampak serapuh struktur penataan wilayah dan struktur bangunan dalam menghadapi goyangan gempa. 


Terbukti, setelah terjadi bencana, belum seluruh warga bahu-membahu meringankan beban satu sama lain. Masih beredar kabar adanya pihak-pihak yang justru
memanfaatkan kesempatan untuk diri sendiri, seperti menaikkan harga air, minyak, sampai tarif ojek di luar batas kewajaran.

 

Rapuhnya modal sosial ini yang menjawab keheranan lama saya : mengapa aroma kemiskinan di Sumatra Barat masih terasa menyengat, sedangkan sejarah intelektualitas dan keberagamaannya begitu kuat ?.

Aspek lain yang lebih penting lagi untuk ditata adalah
keagamaan

 

Bersama Aceh, Sumatra Barat merupakan masyarakat paling terasosiasi dengan keberagamaan yang kuat.

 

Bila Aceh berlabelkan 'Serambi Makkah', Sumatra Barat mengusung slogan 'Adat Bersendi Syara, Syara Bersendi Kitabullah'. 

 

Masyarakat yang mengusung simbol keagamaan mendapat tuntutan lebih dibanding masyarakat lain dalam menegakkan nilai-nilai agama secara substansial

Pengingkaran diam-diam terhadap ajaran agama melalui perilaku yang tak semestinya dapat menyeret pada status munafik status yang kelak akan mendapat hukuman paling keras dari Tuhan.

 

Sikap munafik dapat terjadi pada siapa pun dan masyarakat mana pun. Namun, di kalangan pihak yang seolah paling beragamalah, kemunafikan paling mungkin berkembang.

 

Sungguh baik bila masyarakat Sumatra Barat mau mengkaji kemungkinan yang mudah-mudahan tidak terjadi itu.

 

Saya percaya bahwa ada momentum untuk bangkit. Saya juga percaya, masyarakat Sumatra Barat punya kemampuan memanfaatkan momentum tersebut untuk segera bangkit.

 

*

Ayo Bangkit Sumbar !.

http://www.republika.co.id/koran/28/81180/Ayo_Bangkit_Sumbar

***

 

Gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR telah mengguncang wilayah Sumatera Barat. Wilayah ini, konon merupakan daerah katung umat Islam nomer 2 di Indonesia.

 

Mayoritas masyarakat di Sumatera Barat dalam kehidupan kesehariannya terkenal kuat religius Islamnya, taat dalam menjalankan ibadahnya, patuh terhadap hukum dan peraturan serta ajaran agamanya, serta teguh dalam menjaga akidah agamanya.

 

Gempa dahsyat tersebut telah menimbulkan kerusakan yang parah pada bangunan publik, sekolah, pertokoan, rumah tinggal penduduk, termasuk tempat-tempat ibadah.

 

Bangunan tempat-tempat ibadah itu termasuk pula bangunan tempat ibadahnya umat agama Nasrani, yaitu Gereja.

 

Beberapa diantaranya adalah Gereja Katedral di Padang, Gereja BNKP di Padang, Gereja St. Petrus Claver di Bukittinggi, Gereja St. Petrus Rasul di Padang Panjang, Gereja St. Fidelis Sigmarinda di Payakumbuh, Gereja St. Barbara di Sawahlunto, gedung Keuskupan Padang, dan Gereja-Gereja lainnya.

 

Bangunan gereja Katredal Padang mengalami kerusakan pada beberapa fasilitas ibadah, seperti gua Maria dan Altar Misa. Beberapa tembok bangunan ada yang runtuh, namun bangunan gereja secara struktur keseluruhannya tidaklah roboh, tetap kokoh tegak berdiri.

 

Sampai dengan saat ini, belum ada berita yang mengabarkan adanya bangunan gereja-geraja yang tersebar di seluruh pelosok wilayah propinsi Sumatera Barat yang roboh atau ambruk akibat gempa.

 

Sebagian besar bangunan hanya mengalami kerusakan ringan sampai dengan sedang saja. provinsi ini, selain gereja-gereja tersebut diatas, juga banyak terdapat gereja yang tersebar di seluruh pelosok wilayahnya.

 

Seperti diantaranya, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh mempunyai gereja-gereja yang tersebar di seluruh pelosok, antara lain terdapat di Padang, Padang Panjang, Pariaman, Payakumbuh, Sawahlunto, Solok.

 

Selain itu, PGPI (Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia) mempunyai 27 (dua puluh tujuh) buah gereja di kota Padang.

 

Lalu ada pula Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) di Padang, Gereja HKBP Padang, Gereja St. Fransiskus Assisi di Padang, Gereja Injil Seutuh Indonesia Ekklesia di Padang, Gereja Kristen Protestan Mentawai, Gereja HKBP di Padang, Gereja HKBP di Bukit Tinggi, Gereja Pentakosta di Padang Pariaman, dan yang lain sebagainya.

 

Demikian juga dengan bangunan tempat ibadah pemeluk agama lainnya, seperti Vihara dan Kelenteng.

 

Bangunan Vihara dan Klenteng ini juga mengalami kerusakan pada beberapa fasilitas ibadahnya, namun secara struktur keseluruhannya bangunan tetap utuh, tidak ambruk.

 

Di Sumatera Barat terdapat beberapa Vihara dan Kelenteng yang tersebar di beberapa wilayahnya.

 

Diantaranya adalah Vihara Buddha Warman di Padang, Vihara Metta Maitreya di Padang, Vihara Buddha Metta di Payakumbuh, Vihara Karuna Murti di Padang Panjang, Vihara Buddha Sasana di Bukit Tinggi.

 

Juga ada beberapa Klenteng, yaitu Klenteng Hood Tjoe di Padang, Kelenteng See Hien Kiong di Padang.

 

Di kota Padang, juga terdapat pemukiman etnis Tionghoa atau biasa disebut sebagai kampung Pecinan. Pemukiman itu ada di daerah Pondok Pecinan.

 

Sementara itu, ada beberapa masjid yang mengalami kerusakan cukup parah. Diantaranya masjid Muhammadiyah Simpang Haru, Masjid Babussalam Ulak Karang, dan beberapa masjid lainnya.

 

Kondisi tempat peribadatan yang rusak tersebut tentu mengganggu dan menghambat anggota masyarakat Minang dalam melakukan ketaatannya dalam menjalankan amal ibadah peribadatannya.

 

Diakibatkan oleh kondisi tempat peribadatan yang seperti itu, maka di beberapa tempat, pelaksanaan sholat Jumat berjamaah terpaksa di lakukan di halaman masjid.

 

Situasi ini semestinya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, mengingat fungsi masjid tidak hanya dipergunakan untuk pelaksanaan sholat Jumat berjamaah yang sekali dalam seminggunya saja. Namun juga dipergunakan untuk sholat fardhu berjamaah yang lima kali dalam setiap harinya.

 

Oleh karena itu, program rehabilitasi dan pembangunan kembali tempat-tempat peribadatan merupakan salah satu prioritas untuk segera dilakukan.

 

Dengan kembali utuhnya tempat-tempat peribadatan itu, maka masyarakat pun akan segera kembali dapat menjalankan peribadatannya dengan taat dan nyaman serta tenang. Kehidupan pun akan kembali pulih, berjalan normal seperti sediakala, sebelum terjadinya gempa.

 

Dimana, gereja-gereja yang tersebar di segala pelosok propinsi Sumatera Barat itu akan kembali utuh seperti sebelum peristiwa gempa. Menggemakan lagi loncengnya, lalu ritual misa dan kebaktian umat Nasrani akan segera kembali semarak seperti sebelum peristiwa gempa.

 

Sementara itu, masjid-masjid pun perlu direhabilitasi sehingga kembali utuh, dengan struktur konstruksi bangunannya pun lebih kokoh dan lebih megah lagi.

 

Kemudian, menaranya akan kembali mengumandangkan panggilan azannya. Barisan shaf-shaf sholatnya dipenuhi oleh para jamaahnya. Diiringi dengan semaraknya kegiatan majelis taklim dan majelis zikir serta majelis kajian ilmu agama, untuk mempertebal iman tauhid dan memperkuat akidahnya.

 

Semoga para donatur dan dermawan yang berada di seluruh pelosok Indonesia maupun di beberapa belahan dunia lainnya akan segera terketuk hatinya, untuk peduli dan segera berbuat sesuatu dengan bergotong royong memperbaiki tempat-tempat peribadatan itu.

 

Akhirulkalam, peristiwa gempa ini adalah Kehendak-Nya. Tentulah ada pesan dibalik peristiwa yang menunjukkan Kemaha Kuasaan-Nya.

 

Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya maka Allah akan menimpakan baginya musibah.

 

Oleh sebab itu, maka semoga saja Minangkabau dengan budaya ‘Matriarkat’ yang terkenal memegang teguh semboyan ‘adat bersendikan syara dan syara bersendikan kitabullah’ ini dapat membaca pesan dibalik peristiwa gempa ini, lalu meraih hikmah dan ibrah serta iktibar dari peristiwa ini.

 

Selanjutnya hal itu dapat menjadi wasilah bagi bertambahnya kebaikan dan perbaikan di tata kemasyarakatnya, sebagaimana yang sudah terjadi di tata kemasyarakatan di Aceh pada masa pasca bencana Tsunami.

 

Wallahulambishshawab.

 

*

Referensi Artikel Terkait :

Mentafakuri Fenomena Gempa Minang’, klik disini atau disini

Hikmah dibalik Gempa Padang’, klik disini

Mengapa Terjadi Bencana ?, Tanyakan Kepada Yang Maha Ahlinya !’, klik disini

Anugerah & Bencana adalah Kehendak-Nya’, klik disini atau disini

Teguran & Azab-Nya’, klik disini

 

*

Gereja Minang pun Turut Berduka

http://politikana.com/baca/2009/10/07/gereja-minang-pun-turut-berduka.html

http://public.kompasiana.com/2009/10/07/gereja-minang-pun-turut-berduka/

***

 

 





__._,_.___

Mailing list:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Blog:
http://mediacare.blogspot.com

http://www.mediacare.biz






Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Gmane