Home
Reading
Searching
Subscribe
Sponsors
Statistics
Posting
Contact
Spam
Lists
Links
About
Hosting
Filtering
Features Download
Marketing
Archives
FAQ
Blog
 
Gmane
From: Remotivi Remotivi <remotivi-DaQTI0RpDDMAvxtiuMwx3w <at> public.gmane.org>
Subject: =?utf-8?B?4oCcRGkgQmFsaWsgRnJla3VlbnNp4oCdLCBVcGF5YSBEZXNha3JhbGlzYXNp?= =?utf-8?B?IFBvc2lzaSBNZWRpYQ==?=
Newsgroups: gmane.culture.media.mediacare
Date: Saturday 23rd February 2013 06:52:32 UTC (over 3 years ago)
“Di Balik Frekuensi”, Upaya Desakralisasi Posisi Media

oleh: Ardi Wilda

Ribuan kanal media yang ada di Indonesia nyatanya hanya dikendalikan oleh
dua belas grup media saja. Cengkeraman konglomerasi media seperti itu
sangat terasa pengaruhnya, terutama dalam konten tayangan. Alih-alih
berpihak kepada publik, media justru melayani kepentingan pemiliknya, yang
tidak pernah bisa diterka motif ekonomi mau pun politik di baliknya. Untuk
mengupas permasalahan tersebut, Remotivi dan ruangrupa,bekerjasama dengan
Gambar Bergerak mengadakan pemutaran dan diskusi film Di Balik Frekuensi
yang disutradarai  Ucu Agustin pada Kamis, 21 Februari 2013, di ruangrupa,
Tebet, Jakarta Selatan. 

Film dokumenter berdurasi lebih dari dua jam ini menyoroti praktik industri
media dalam hal mempekerjakan buruh media dan penggunaan frekuensi publik
sebagai kepanjangan tangan pemilik media. Dua sosok sentral dalam film ini
adalah Luviana, seorang jurnalis Metro TV yang di-PHK karena mempertanyakan
sistem manajemen yang tak berpihak pada pekerja dan mengkritisi kebijakan
ruang redaksi (baca: “Luviana: Jurnalis Harus Sadar Bahwa Mereka Kelas
Buruh”), serta Hari Suwandi dan Harto Wiyono, warga korban lumpur Lapindo
yang berjalan dari Porong, Sidoarjo, ke Jakarta untuk menuntut pembayaran
ganti rugi. Dua tokoh tersebut adalah gambaran, sekaligus pintu masuk dalam
membongkar praktik konglomerasi media yang semakin mengkhawatirkan dewasa
ini.

Sang sutradara Ucu Agustin berharap film ini dapat diakses sebanyak mungkin
pihak. Menurutnya, dengan melihat realitas media, publik akan lebih kritis
dengan apa yang diserapnya dari media. “Isu soal konglomerasi ini cepat
sekali (menggelindingnya). Saat film ini dibuat Hary Tanoesoedibjo masih
tergabung dengan Nasdem, sekarang (sudah) pindah ke Hanura. Ini terus
bergulir, harus terus kita pantau,” ujarnya.

Baca selengkapnya >> www.remotivi.or.id  


--REMOTIVI
"Hidupkan Televisimu, Hidupkan Pikiranmu"
www.remotivi.or.id  | Twitter  | Facebook 


Remotivi adalah sebuah inisiatif warga untuk kerja pemantauan tayangan
televisi di Indonesia. Cakupan kerjanya turut meliputi aktivitas pendidikan
melek media dan advokasi yang bertujuan (1) mengembangkan tingkat
kemelekmediaan masyarakat, (2) menumbuhkan, mengelola, dan merawat sikap
kritis masyarakat terhadap televisi, dan (3) mendorong profesionalisme
pekerja televisi untuk menghasilkan tayangan yang bermutu, sehat, dan
mendidik.
WebRep
Overall rating
This site has no rating
(not enough votes)
 
CD: 15ms