Home
Reading
Searching
Subscribe
Sponsors
Statistics
Posting
Contact
Spam
Lists
Links
About
Hosting
Filtering
Features Download
Marketing
Archives
FAQ
Blog
 
Gmane

From: <agoeng_set-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w <at> public.gmane.org>
Subject: Re: tentang-totok-peranakan
Newsgroups: gmane.culture.region.china.budaya-tionghua
Date: Wednesday 5th September 2012 04:30:59 UTC (over 6 years ago)
Jadi supaya bisa disebut tokoh peranakan seperti contoh2 ente itu apa
kualifikasinya? Sampe bisa nongol nama agnes, rudi, souw dkk? 

Btw seru juga sih kalo ke Taman Mini berwisata, pas sampe pavilion tionghoa
kita bakal bilang, yg ini museum peranakan lho tapi sebelahnya museum org
hakka, seakan2 peranakan tidak ada org hakka n org hakka bukan peranakan.
Mantafff wekekekke
-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Tue, 4 Sep 2012 23:59:07 
To: 
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [budaya_tionghua] tentang-totok-peranakan

Saya dan teman2 mendirikan ASPERTINA (Asosiasi Peranakan Tionghoa
Indonesia) bukan untuk memisahkan diri dari komunitas lainnya (misal totok)
juga bukan ingin tampil beda. Kami mendirikan ASPERTINA semata mata untuk
melestarikan budaya warga peranakan yang unik, perpaduan antara budaya
Tiongkok dan budaya lokal. Mulai dari bentuk rumah, furniture, perabot
rumah tangga, busana, sastra, histori, dan kuliner.  Rumah peranakan
gabungan dari gaya rumah China, barat, dan lokal - punya cemce, berjendela
besar, dan wuwungan gaya barat. Juga furniture berpenampilan unik seperti
lemari cwihow. Perabot keramik yg unik dengan pola hiasan penuh tata warna
(tidak cuma biru atau hitam). Busana yg unik terutama utk kaum wanita
dengan kebaya nyonya dan batik Pekalongan dan Lasem yg indah. Sastra
peranakan yg pernah menguasai Indonesia seperti karya adiluhung Kwee Tek
Hoay dengan tata bahasa Melayu Peranakan yg asyik dibaca. Historia yang
indah seperti Kapiten Souw Beng Kong yg beristrikan wanita Bali (ada
ceritanya), makanan yg unik dan lezat seperti laksa dan ayam kluwek serta
puluhan kue basah. Selain juga di bidang entertainment seperti ada bintang
populer warga peranakan, Agnes Monica, Fifi Young dan Tan Ceng Bok. Di
bidang olah raga seperti Rudy Hartono dkk. Semua ini akan kami lestarikan
dalam bentuk museum peranakan. Asosiasi dan museum peranakan tidak hanya di
Indonesia ada pandanannya di Singapura, Penang, Kuala Lumpur, Pattaya, dan
Melbourne. Ini menyatakan bukan cuma kami yg menyukai budaya campuran para
leluhur. Baru saja kami mensurvei museum peranakan Chung Keng Kwee (The
Green Mansion) dan Chiung Fatt Tze (The Blue Mansion) di Penang serta
Museum Peranakan di jln Armenia, Singapura dalam rangka membangun museum
peranakan di Taman Budaya Tionghoa Indonesia - TMII oleh Yayasan Peranakan
Tionghoa Indonesia. Di bidang lain, ASPERTINA  berencana menggelar fashion
show "Kondangan Peranakan" di ball room hotel Mulia bulan Nopember ini,
melulu untuk memperlihatkan kepada anak cucu bahwa ada kebudayaan fashion,
perkawinan, dan makanan yg indah bergaya peranakan. Baik di Singapura dan
Malaysia ada trend utk "back to the future"  menikah dalam balutan budaya
peranakan. Ada saatnya kita memakai busana peranakan, misalnya di acara
perkawinan dan undangan resmi negara. Pada perkawinan campuran, bila salah
satu pihak ada acara perkawinan adat lokal maka kitapun punya acara
pandanannya. Kalau ada acara resmi negara maka kita pakai busana peranakan
sebagai pandanan dari busana suku lain. Di ASPERTINA kami tidak
membicarakan agama secara intens hanya membicarakannya kalau terkait budaya
tata cara. Demikian. Salam TG 
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "Ardian" 
Sender: [email protected]
Date: Tue, 04 Sep 2012 11:45:34 
To: 
Reply-To: [email protected]
Subject: [budaya_tionghua] tentang-totok-peranakan

http://web.budaya-tionghoa.net/home/2312-tentang-totok-peranakan



masalah totok dan peranakan kadang menyebalkan untuk saya.

Mereka yang merasa peranakan seharusnya ingat bahwa leluhur mereka juga
adalah totok dan yang totok harus ingat bahwa keturunannya nanti akan
menjadi peranakan. Peranakan sering menyebut sengkek dan totok menyindirnya
dengan
istilah kiaw seng. Apa ini bukan menghina leluhur mereka dan meludahi
keturunan mereka ?

Orang yang merasa totok kadang sombong dan merasa paling berbudaya, tapi
ketika anak mereka menikah, banyak yang mengenakan jas dan gaun pengantin
ala barat. Sedangkan kiaw seng di Tangerang, Kemang, Ciampea masih mau
upacara
shangtou, qiqiao, lidou, pai Tiandi. Bisa dikatakan mereka yang disebut
kiaw seng Tangerang melaksanakana 6 tata cara menikah dalam kitab Liji.

Perselisihan Totok dan Peranakan yang terjadi pada masa lampau sebenarnya
menurut saya adalah politik pemecah belah.
Coba lihat pernyataan kaum peranakan yang menghina penganut Khonghucu. Dan
kita juga harus lihat kaum Totok memandang mereka seperti orang barbar atau
setengah fankui. Terkadang ditambah sebutan ular kaki 4.

Pada masa dahulu memang kaum peranakan banyak yang mendapat pendidikan
barat sedangkan kaum totok mendapat pendidikan timur. Nasib malang pada
masa itu, Tiongkok sedang dalam keadaan hina dina. Kita jangan lupa kondisi
perasaan rakyat Tiongkok yang dianjingkan oleh pihak barat di konsesi
mereka di Tiongkok. Jadi tidak aneh ada perasaan inferior dibeberapa
kalangan Tionghoa pada masa itu dan memandang rendah kaum Totok serta
beranggapan bahwa budaya leluhur merekalah yang menyebabkan
keterpurukannya. Selain itu juga ada faktor kekaguman akan budaya barat dan
ada bebeberapa peranakan yang tidak melepaskan tradisi leluhur tapi
menyerap budaya setempat.

Sedangkan bagi kaum Totok, mungkin dengan mempertahankan budaya mereka
adalah suatu cara mereka melawan penghinaan dari barat dan Jepang. Dan
selain itu juga ada rasa kebanggaan terhadap budaya leluhur mereka. Tapi
banyak juga yang disebut totok berduit dari Tiongkok yang juga malu jika
berbudaya leluhur.

Pandangan yang beranggapan bahwa kaum peranakan adalah mereka yang
berpendidikan barat, beragama non Tridharma, telah bergenerasi lahir di
Nusantara ini, lepas dari adat istiadat mereka, berbahasa Mandarin atau
dialeknya sebenarnya pandangan yang salah .Kalau kita lihat, bagaimana
mereka yang di Singkawang atau Tangerang yang terdekat ? Apakah mereka
totok atau peranakan ? Saya sempat melihat film ritual Tatung mereka dan
melihat ada beberapa ritualnya jelas terpengaruh oleh budaya setempat.

Pandangan bahwa kaum Totok perusak ekonomi Indonesia mungkin melekat kuat
disebagian kaum Peranakan. Tapi kaum peranakan ini lupa bahwa dahulu
leluhur mereka yang jelas- jelas totok mayoritas hidup dari berdagang,
bertani atau menjadi buruh.

Dan kaum totok jelas mayoritas berpendidikan lebih rendah, modal lemah
bahkan dikatakan tidak ada, mau tidak mau harus memasuki jalur perdagangan,
buruh atau petani sebagai salah satu cara mereka mengatasi kemiskinan dan
bertahan hidup.

Jika menjadi besar kemudian dituduh menjadi binatang ekonomi jelas tidak
adil. Karena kerusakan ekonomi tidak bisa bertepuk sebelah tangan, harus
ada tangan lain yang juga memiliki andil merusaknya.

Mungkin kaum peranakan lupa pada masa jaman Belanda, banyak kaum peranakan
yang memiliki CV, NV atau bekerja di perusahaan asing yang juga secara
tidak langsung maupun tidak langsung dianggap memiliki andil "merusak" atau
"memeras" ekonomi dimata rakyat setempat. Sejatinya pengusaha hitam
memerlukan pejabat bejat agar bisa memperkaya diri. Hal ini yang tidak
pernah terpikir atau tidak mau dipikir ?

Disertasi Twang Peckyang mungkin bisa memberikan gambaran sedikit mengapa
dominasi ekonomi kaum peranakan pada masa jaman Belanda bisa tergeser pada
masa Republik.

Akhir kata, sekarang ini siapa yang bisa menyebut dirinya totok ? Jika ada,
mungkin umur sudah uzur atau masuk ke liang lahat.
Juga masih maukah kita berkelahi gara-gara sebutan itu ? Jika ya, kita
galakkan kembali larangan menikah antara orang Hokian dan Khe saja.

Kemudian bangkitkan chauvinist orang Khonghu di Indonesia yang merasa
mereka adalah keturunan Han yang asli. Tunggu saja orang Shandong menghina
orang-orang Hokian dan Khe sebagai orang barbar atau rendahan. Kobarkan
lagi permusuhan antar
marga seperti leluhur mereka di kampung halamannya. Mau seperti itu ?

Hormat saya,
Xuan Tong
 
CD: 4ms