Ananto | 30 Sep 02:52 2010
Picon

(Ponpes of the Day) Pondok Pesantren Al - Amien, Prenduan, Sumenep, Madura - Jawa Timur

Pondok Pesantren Al – Amien, Prenduan, Sumenep, Madura – Jawa Timur

[image: al amien sumenep.jpg]

Selayang Pandang

AL-AMIEN PRENDUAN merupakan salah satu pondok pesantren di pulau madura.
Berpusat di desa Prenduan, kecamatan Pragaan kabupaten Sumenep. Desa
Prenduan sendiri merupakan desa yang terletak di pinggiran jalan poros
propinsi yang menguhubungkan Kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Desa Prenduan
merupakan desa di pesisir selatan pulau madura, kurang lebih 30 km sebelah
barat kota Sumenep dan 22 km sebelah timur kota Pamekasan.

Saat ini Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN menempati lahan seluas 25 ha
yang menyebar di beberapa lokasi di desa Pragaan Laok dan desa Prenduan. Di
masa-masa yang akan datang, besar harapan seluruh keluarga besar Pondok
Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN akan berdiri cabang-cabang baru di daerah-daerah
lain yang membutuhkan dan memungkinkan.

AL-AMIEN PRENDUAN sendiri merupakan lembaga yang berbentuk dan berjiwa
pondok pesantren yang bergerak dalam lapangan pendidikan, dakwa, kaderisasi
dan ekonomi sekaligus pula menjadi pusat studi islam. Dengan mengembangkan
sistem-sistem yang inovatif, tapi tetap berakar pada budaya as-Salaf
as-Sholeh. Pondok pesantren ini merupakan lembaga yang independen dan
netral, tidak berafiliasi kepada salah satu golongan atau partai politik
apapun. Seluruh aset dan kekeyaan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN telah
diwakafkan kepada ummat Islam dan dikelola secara kolektif oleh sebuah Badan
Wakaf yang disebut Majlis Kiyai. Untuk melaksanakan tugas-tugas sehari,
Majlis Kyai mendirikan sebuah yayasan yang memiliki badan hukum dan telah
terdaftar secara resmi di kantor Pengadilan Negeri Sumenep.

Sejarah Singkat

Sejarah berdiirinya, pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN tidak bisa
dilepaskan dari sejarah perkembangan agama Islam di Prenduan itu sendiri.
Karena *Kiai Chotib* (kakek para pengasuh sekarang) yang memulai usaha
pembangunan lembaga pendidikan Islam di Prenduan, juga merupakan Kiai
mengembangkan Islam di Prenduan. Usaha Pembangunan lemba ini sebenarnya
merupakan kelanjutan dari usaha adik ipar beliau, Kiai Syarqowi yang hijrah
ke Guluk-guluk setelah kurang lebih 14 tahun membina masyrakat Prenduan
dalam rangka memenuhi amanat sahabatnya, *Kiai Gemma *yang wafat di Mekkah.

Sebelum meninggalkan Prenduan untuk hijrah ke Guluk-guluk, Kiai Syarqowi
meminta Kiai Chotib untuk menggantikannya membimbing masyarakat Prenduan,
setelah sebelumnya menikahkan beliau dengan salah seorang putri asli
Prenduan yang bernama Aisyah, atau yang lebih dikenal kemudian dengan Nyai
Robbani. Dengan senang hati Kiai Chotib menerima amanah tersebut.

Beberapa tahun kemudian, sekitar awal abad ke-20, Kiai Chotib mulai merintis
pesantren dengan mendirikan Langgar kecil yang dikenal dengan Congkop.
Pesantren Congkop, begitulah masyarakat mengenal lembaga pendidikan ini,
karena bangunan yang berdiri pertama kali di pesantren ini adalah bangunan
berbentuk Congkop (bangunan persegi semacam Joglo). Bangunan ini berdiri di
lahan gersang nan labil dan sempit yang dikelilingi oleh tanah pekuburan dan
semak belukar, kurang lebih 200 meter dari langgar yang didirikan oleh Kiai
Syarqowi.

Sejak saat itu, nama congkop sudah menjadi dendang lagu lama pemuda-pemuda
prenduan dan sekitarnya yang haus akan ilmu pengetahuan. *Ngaji di
Congkop…mondok di Congkop…nyantri di Congkop…* dan beberapa istilah lainnya.
Dari congkop inilah sebenarnya cikal bakal Pondok Pesantren AL-AMIEN
PRENDUAN yang ada sekarang ini dan kiai Chotib sendiri ditetapkan sebagai
perintisnya.

Tapi sayang sebelum congkop menjadi besar seperti yang beliau idam-idamkan,
kiai Chotib harus meninggalkan pesantren dan para santri-santri yang beliau
cintai untuk selama-lamanya. Pada hari sabtu, tanggal 7 Jumadil Akhir 1349 /
2 Agustus 1930 beliau berpulang ke haribaan-Nya. Sementara putra-putri
beliau yang berjumlah 8 orang sebagian besar telah meninggalkan Congkop
untuk ikut suami atau membina umat di desa lain. Dan sebagian lagi masih
belajar di berbagai pesantren besar maupun di Mekkah. Sejak itulah cahaya
Congkop semakin redup karena regenerasi yang terlambat. Walaupun begitu
masih ada kegaitan pengajian yang dibina oleh Nyai Ramna selama beberapa
tahun kemudian.

*Periode Pembangunan Ulang*

Setelah meredup dengan kepergian kiai Chotib, kegiatan pendidikan Islam di
Prenduan kembali menggeliat dengan kembalinya kiai Djauhari (putra ke tujuh
kiai Chotib) dari Mekkah setelah sekian tahun mengaji dan menuntut ilmu
kepada Ulama-ulama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beliau kembali bersama
istri tercinta Nyai Maryam yang merupakan putri salah seorang Syekh di
Makkah Al-Mukarromah.

Sekembali dari Mekkah, KH. Djauhari tidak langsung membuka kembali pesantren
untuk melanjutkan rintisan almarhum ayah beliau. Beliau melihat masyarakat
Prenduan yang pernah dibinanya sebelum berangkat ke Mekkah perlu ditangani
dan dibina lebih dahulu karena terpecah belah akibat masalah-masalah
khilafiyah yang timbul dan berkembang di tengah-tengah mereka.

Setelah masyarakat Prenduan bersatu kembali, barulah beliau membangun
madrasah yang baru yang lebih teratur dan terorganisir. Madrasah baru
tersebut diberi nama *Mathlabul Ulum* atau *Tempat Mencari Ilmu.* Madrasah
ini terus berkembang dari waktu-waktu termasuk ketika harus berjuang melawan
penjajahan Jepang dan masa-masa mempertahankan kemerdekaan pada tahun 45-an.
Bahkan ketika KH. Djuhari harus mendekam di dalam tahanan Belanda selama
hampir 7 bulan madrasah ini terus berjalan dengan normal dikelola oleh
teman-teman dan murid-murid beliau.

Hingga akhir tahun 1949 setelah peperangan kemerdekaan usai dan negeri
tercinta telah kembali aman, madrasah Mathlabul Ulum pun semakin pesat
berkembang. Murid-muridnya bertambah banyak, masyrakat semakin antusias
sehingga dianggap perlu membuka cabang di beberapa desa sekitar. Tercatat
ada 5 madrasah cabang yang dipimpin oleh tokoh masyarakat sekitar madrasah.
Selain mendirikan Mathlabul Ulum beliau juga mendirikan Tarbiyatul Banat
yang dikhususkan untuk kaum wanita. Selain membina madrasah, KH. Djauhari
tak lupa mempersiapkan kader-kader penerus baik dari kalangan keluarga
maupun pemuda-pemuda Prenduan. Tidak kurang dari 20 orang pemuda-pemudi
Prenduan yang dididik khusus oleh beliau.

Hingga akhir tahun 1950-an Mathlabul Ulum dan Tarbiyatul Banat telah
mencapai masa keemasannya. Dikenal hampir di seluruh Prenduan dan
sekitarnya. Namun sayang kondisi umat Islam yang pada masa itu diterpa oleh
badai politik dan perpecahan memberi dampak cukup besar di Prenduan dan
Mathlabul Ulum. Memecah persatuan dan persaudaraan yang baru saja terbangun
setelah melewati masa-masa penjajahan. Pimpinan, guru dan murid-murid
Mathlabul Ulum terpecah belah.

Periode Pengembangan

*Periode Pendirian Pesantren (1952 - 1971)*

* *

Menjelang akhir tahun 1951, di tengah keprihatinan memikirkan nasib
Mathlabul Ulum yang terpecah KH. Djauhari teringat pada Pesantren Congkop
dan almarhum ayahanda tercinta, teringat pada harapan masyrakat Prenduan
saat pertama kali beliau tiba dari Mekkah. Beliaupun bertekad untuk
membangkitkan kembali harapan yang terpendam, membangun Congkop Baru.

Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun sebuah langgar atau
mushalla yang menjadi pusat kegiatan santri dan para ikhwan Tidjaniyyin.
Akhirnya setelah kurang lebih 1 tahun, walaupun dengan sangat sederhana
Majlis Tidjani pun berdiri tegak. Maka tepat pada tanggal 10 November 1952
yang bertepatan dengan 09 Dzul Hijjah 1371 dengan upacara yang sengat
sederhana disaksikan oleh beberapa santri dan Ikhwan Tidjaniyyin, KH.
Djauhari meresmikan berdirinya sebuah Pesantren dengan nama Pondok Tegal.
Pondok Tegal inilah yang kemudian berkembang tanpa putus hingga saat ini dan
menjadi Pondok Pesantren Al-Amien seperti yang kita kenal sekarang ini.
Karena itulah tanggal peresmian yang dipilih oleh KH. Djauhari disepakati
oleh para penerus beliau sebagai tanggal berdirinya Pondok Pesantren
AL-AMIEN PRENDUAN.

Di Majlis Tidjani yang baru berdiri inilah, KH. Djauhari mulai mengasuh dan
membimbing santri-santrinya. Semula hanya sebatas Ikhwan Tidjaniyyin yang
datang dan pergi, kemudian datanglah santri-santri yang berhasrat untuk
bermukim. Pada awal-awal tersebut pendidikan dan pengajaran lebih ditekankan
pada penanaman akidah, akhlak dan tasawuf, selain juga diajarkan kitab-kitab
dasar Nahwu dan Shorrof.

Pada tahun 1958 Departemen Agama membuka Madrasah Wajib Belajar (MWB) secara
resmi dengan masa belajar 8 tahun. KH. Djauhari sangat tertarik dengan
sistem madrasah ini, karena selain pelajaran agama dan umum juga diajarkan
pelajaran keterampilan dan kerajinan tangan. Maka pada pertengahan tahun
1959 beliau membuka MWB di Pondok Tegal, sementara Mathlabul Ulum beliau
jadikan Madrasah Diniyah dengan nama Mathlabul Ulum Diniyah (MUD) yang
diselenggarakan pada sore hari hingga kini.

Selain mendirikan MWB beliau juga mendirikan TMI Majalis, diilhami oleh
sistem pendidikan Kulliyatul Mu’allimien Al-Islamiyah Pondok Modern Gontor.
Terutama setelah putra beliau Moh. Tidjani mondok di sana. Didorong oleh
obsesinya untuk mendirikan sebuah pesantren besar yang representatif beliau
merintis madrasah tingkat menengah di Pondok Tegal. Untuk madrasah yang baru
ini beliau secara sengaja memilih nama Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah
atau TMI, tafa’ulan terhadap KMI Gontor yang sangat beliau kagumi. Apalagi
setelah melihat hasil yang dicapai oleh putranya, Moh. Tidjani setelah
setahun mondok di sana.

Selain mendirikan TMI Majalis KH. Djauhari juga pernah mendirikan Sekolah
Lanjutan Pertama Islam yang diprakarsai oleh beberapa orang pemuda Prenduan.
Namun lembaga ini hanya bertahan selama 2 tahun karena kesalahan manajemen
dan kesibukan para pengelolanya. Lalu muncul pula ide serupa beberapa tahun
kemudian beliau mendirikan kembali Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI)
yang pada akhirnya kemudian disatukan dengan TMI Majalis dengan sistem
terpadi yang kemudian menempati lokasi baru di desa Pragaan Laok.

Pada akhir era 70-an KH. Djauhari begitu kecewa dengan perkembangan umat
Islam yang semakin terpecah belah oleh politik dan partai. Sementara,
hasratnya yang begitu besar untuk mendirikan pesantren besar yang
representatif bagi pengkaderan generasi muda muslim. Untuk itulah putra
beliau, Muhammad Idris Jauhari yang baru menyelesaikan pendidikan di KMI
Gontor tidak beliau perkenankan untuk melanjutkan studi keluar daerah.
Bahkan beliau minta untuk membantu beliau dalam banyak kegiatan, mengajar
santri, mengimami sholat, mengisi pengajian, mengurusi pondok dan
lain-lainnya. Saat itu, seolah-olah beliau hendak berpamitan sekaligus
meninggalkan amanat besar yang harus dilanjutkan oleh putra-putri beliau.
Dan memang tidak lama kemudian, pada hari jumat 18 Rabiuts Tsani 1371 / 11
Juni 1971 beliau berpulang ke rahmatullah dengan tenang di dampingi oleh
istri, anak dan keluarga beliau.

*Periode Pengembangan Pertama (1971 - 1989)*

Sepuluh hari sepeninggal KH. Djauhari, masyrakat Prenduan bermufakat untuk
menjariyahkan sebidang tanah seluas 6 ha kepada putra almarhum, Moh. Tidjani
Djauhari yang baru pulang dari Makkah untuk didirikan di atasnya pesantren
yang representatif sesuai dengan cita-cinta almarhum semasa hayatnya. Tanah
tersebut 2,5 ha berasal dari hasil pembelian yang harganya ditanggung oleh
dermawan Prenduan, Kapedi dan Pekandangan sedangkan sisanya yang 3,5 ha
berasal dari jariyah ahli waris almarhum Haji Syarbini yang disponsori oleh
putranya Haji Fathurrahman Syarbini.

Di lokasi baru inilah kemudian yang dikembangkan ke arah selatan, barat dan
utara sehingga saat ini luasnya kurang lebih 12 ha, yang kemudian dikenal
dengan Pondok Al-Amien Komplek II yang sekarang menjadi pusat seluruh
kegiatan AL-AMIEN PRENDUAN. Sebelum memulai pembangunan komplek II ini, kiai
Moh. Tidjani Djauhari bersama kiai Muhammad Idris Juhari melakukan safari
panjang ke beberapa pesantren terkenal di Jawa Timur dalam rangka mohon izin
dan doa restu untuk mendirikan sebuah pesantren baru sekaligus melakukan
studi banding dalam rangka mencari format yang paling cocok untuk masyrakat
madura yang memang berciri khusus pula.

Namun, kiai Moh. Tidjani sementara tidak bisa meneruskan proses pendirian
pesantren baru ini karena beliau harus segera kembali ke Mekkah untuk
menyelesaikan Magisternya yang hampir tuntas. Maka walau awalnya keberatan,
beban tanggung jawab untuk melanjutkan cita-cita almarhum diterima oleh
Kiyai Muhammad Idris Jauhari. Apalagi ada jaminan kebebasan untuk berkreasi
dan berbuat. Lagi pula ini hanya sementara dan di belakang beliau ada banyak
pihak yang siap mendukung seluruh kegiatan pondok.

Berdasarkan hasil safari panjang yang dilakukan sebelumnya itulah, konsep
tentang Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN yang baru, yang mencerminkan
cita-cita almarhum KH. Djauhari *Mendirikan Pesantren Ala Gontor* tapi tidak
melupakan nilai-nilai tradisi ke maduraan yang khas dirumuskan. Maka pada
tanggal 10 Syawal 1371 atau 03 Desember 1971 dalam sebuah upacara yang
sangat sederhana tapi khidmat, bertempat di serambi Bu Jemmar dan dihadiri
oleh beberapa anggota panitia dan guru-guru, Kiyai Muhammad Idris Jauhari
meresmikan berdirinya pesantren baru, dan beliau sebagai direkturnya.

Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah atau lebih dikenal dengan TMI, begitulah
lembaga pendidikan di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN tersebut
dinamakan. Pemilihan nama ini sesuai dengan harapan dari almarhum yang
menginginkan beridirinya sebuah lembaga pendidikan serupa dengan KMI Gontor.
Di awal perjalanannya lembaga baru ini banyak mendapatkan tentangan dari
beberapa pihak yang belum mengerti tentang dasar, acuan dan prinsip sistem
pendidikannya yang menjadi acuannya.

Walaupun mendapatkan tantangan dari luar dan dalam, namun proses pendidikan
tetap berjalan dengan baik. Wisuda pertama dilaksanakan pada tahun 1978
bersamaan dengan kedatangan KH. Moh. Tidjani Djauhari yang sedang pulang
kampung. Bersamaan dengan wisuda tersebut dihelat pula peringatan tujuh
tahun TMI yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan dan wali
santri.

Untuk membantu tugas sehari-hari kiai dan guru-guru juga sebagai media
latihan berorganisasi maka pada tahun 1975 dibentuklah Organisasi Santri
yang bernama OP TMI dan Gudep Pramuka. Yang kemudian bermetamorfosa menjadi
ISMI hingga saat ini.

Walaupun mengembangkan pesantren di lokasi baru, Pondok Tegal sebagai sebuah
warisan dari almarhum tetap dipertahankan bahkan dikembangkan. Untuk itulah
pengelolaan kegiatan pendidikan sehari-hari diserahkan kepada kiai Musyhab
yang merupakan keponakan KH. Djauhari sekaligus menantu beliau. Sedangkan
KH. Muhammad Idris Jauhari fokus mengelola TMI di lokasi baru.

Selain mengembangkan Pondok Tegal pada tahun 1973 juga dibuka Pondok Putri I
di atas tanah milik kiai Abdul Kafi dan istrinya Nyai Siddiqoh keponakan KH.
Djauhari yang memang dikaderkan secara khusus oleh beliau. Pendirian Pondok
Putri I ini sendiri diawali oleh datangnya beberapa remaja putri Prenduan
kepada Nyai Siddiqoh untuk mondok dan belajar secara khusus kepada beliau.
Kedatangan remaja putri lainnyapun berulang di beberapa waktu setelahnya.
Hal inilah yang mendorong beliau untuk membangun lokasi khusus untuk
penginapan dan pemondokan mereka. Sehingga sejak tahun 1986 secara resmi
Pondok Putri I berdiri dan sejak itu dikenal dengan Pondok Putri Al-Amien I
atau Mitri I. Beberapa pengembanganpun dilakukan untuk memajukan Pondok
Putri I sebagaimana halnya Pondok Tegal.

Pengembangan yang dilakukan tidak hanya di Pondok Putri I saja, sejak awal
didirikannya telah ada hasrat yang besar untuk membangun Pondok Pesantren
khusus putri yang bersistemkan TMI. Maka pada awal tahun 1975 dibangunlah SP
Mu’allimat namun terpaksa diganti dengan MTs. Putri karena beberapa faktor.
Namun pada tahun ajaran 1983/1984 beberapa wali santri datang untuk
mengantarkan putrinya di lembaga pendidikan yang bersistem TMI bukan MTs.
maupun MA. Obsesi lama tersebutpun muncul kembali ke permukaan. Maka setelah
dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, tepat pada tanggal 10 Syawal 1405 / 29
Juni 1985 dalam sebuah upacara yang sederhana di salah satu ruang belajar
MTs. Pondok Putri I. Dra. Ny. Anisah Fatimah Zarkasyi yang saat itu sedang
mudik dari Mekkah meresmikan berdirinya Tarbiyatul Mu’allimat Al-Islamiyah
(TMaI) dan KH. Mahmad Aini ditunjuk sebagai direkturnya.

Hingga tahun 1983 TMaI masih menempati lokal MTs Pondok Putri I sampai
akhirnya pindah ke lokasi baru, menempati tanah yang dijariyahkan oleh
Hajjah Maryam. Di atas tanah seluas 1000 m2 yang terletak di sebelah barat
rumah beliau tersebutlah kemudian dibangun lokal pertama milik TMaI. Dari
lokal berbentuk L inilah TMaI mulai berkembang setapak demi setapak hingga
seperti saat ini.

Alhamdulillah setelah enam tahun menjalankan program pendidikannya, pada
tanggal 15 Ramadan 1411 / 31 Maret 1991 TMaI berhasil mewisuda alumni
pertamanya sebanyak 11 orang. Kesebalas orang tersebut adalah mereka yang
bertahan dari 25 orang saat pendaftaran awal pada tahun 1985.

Di lain sisi, sejak awal pembangunan TMI telah disadari pentingnya
mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi di lingkungan AL-AMIEN PRENDUAN.
Utamanya adalah untuk menampung alumni TMI yang berhasrat untuk melanjutkan
pendidikannya namun masih di dalam pondok. Maka disepakatilah untuk
mendidikan pesantren tinggi dengan nama Pesantren Tinggi Al-Amien (PTA)
Fakultas Dakwah dengan KH. Shidqi Mudzhar sebagai dekannya dan KH.
Jamaluddin Kafie sebagai pembantu dekan sekaligus pelaksana harian.

Selanjutnya ketika Menteri Agama, Bapak Munawwir Syadzali, MA berkunjung ke
Al-Amien pada tanggal 04 Dzulhijjah 1403 / 11 September 1983 beliau diminta
untuk meresmikan Pesantren Tinggi Al-Amien. Dan sesuai dengan peraturan pada
masa itu Pesantren Tinggi diubah namanya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah
Al-Amien (STIDA) yang pada 24 Rajab 1402 / 29 Januari 1992 melepas
wisudawannya sebanyak 43 orang.

*Periode Pengembangan Kedua (1989-sekarang)*

Tanggal 27 Januari 1989, KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA kembali dari Mekkah
Al-Mukarromah. Kemudian disusul oleh KH. Maktum Jauhari, MA pada tahun 1990
yang baru saja menyelesaikan Magisternya di Al-Azhar Cairo. Sejak saat
itulah Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN memasuki masa pengembangan baru.
Pengembangan-pengembangan semakin cepat berjalan karena sinergi yang semakin
solid.

Pengembangan pertama yang dilakukan adalah Pendirian Ma’had Tahfidh
Al-Qur’an (MTA). Pendirian MTA ini didasari pada obsesi lama untuk mencetak
generasi *Hafadzah Al-Qur’an *yang mampu menjawab tantangan zaman dan
tuntutan ummat. Maka pada tahun 1990 pendirian MTA dimulai dengan membuka
kembali program *Jamaah Tahfidz *di kalangan santri senior TMI. Lalu
kemudian pada pertengahan bulan Sya’ban 1411 / Februari 1991 KH. Muhammad
Idris Jauhari bersama KH. Ainul Had dan KH. Zainullah Rais berkeliling ke
beberapa Ma’had Tahfidzil Qur’an di Jawa Timur, Jogjakarta hingga ke Jawa
Tengah untuk studi banding dan mencari pola serta sistem yang paling
representatif bagi Ma’had Tahfidzil Qur’an Al-Amien.

Dengan perantara Syekh Bakr Khumais, seorang dermawan Arab Saudi Syekh Ahmad
Hasan Fatihy bersedia menyediakan dana yang cukup untuk membuka lembaga
khusus bagi MTA yang terpisah dengan TMI. Maka pada dengan segala persiapan
yang matang pada tanggal 12 Rb. Awal 1412 / 21 September 1991 KH. Moh.
Tidjani Djauhari, MA meresmikan berdirinya MTA dengan jumlah murid pertama
sebanyak 28 orang.

Pengembangan kedua adalah pembangunan Masjid Jami’ AL-AMIEN PRENDUAN. Hal
ini telah terobsesi sejak lama, sejak beliau masih berada di Mekkah
Al-Mukarromah. Beliau menginginkan di tengah-tengah kampus Al-Amien nantinya
dibangun sebuah masjid yang besar, megah, indah dan multifungsi. Maka
sepulang dari Mekkah beliau pun membentuk Panitia Pembangunan Masjid Jami’
AL-AMIEN PRENDUAN. Segera setelah panitia dibentuk pembangunan masjid
tersebut dimulai. Segala daya dan upaya dilakukan untuk mensukseskan
pembanguan masjid besar ini. Untuk teknis pembangunan PT. Adhi Karya dan
Pondok Modern Gontor pun di gandeng.

Pembangunan masjid besar seluas 48 x 40 meter ini berjalan secara bertahap
dari tahun ke tahun. Proses pembangunannya kadang berlari, merangkak bahkan
merayap sesuai dengan kebutuhan dan dana yang ada. Hingga akhirnya seluruh
bagian utama masjid tersebut selesai tepat bersamaan dengan perayaan
kesyukuran 45 tahun berdirinya AL-AMIEN PRENDUAN. Pada perhelatan akbar itu
pula Menteri Agama meresmikan Masjid Jami’ AL-AMIEN PRENDUAN. Total
keseluruhan pembiayan yang dihabiskan hingga saat itu mencapai Rp.
1.293.005.000.

Pengembangan selanjutnya adalah peningkatan status Sekolah Tinggi Dakwah
Al-Amien (STIDA) menjadi Sekolah Tinggai Agama Islam Al-Amien (STAI) dengan
dibukanya Jurusan Pendidikan Agama (Tarbiyah) pada tahun 1995. Lalu pada
tahun 2001 status STAI ditingkat kembali menjadi Institut Dirosat Islamiyah
Al-Amien (IDIA) dengan dibukanya 3 jurusan baru, Pendidikan Bahasa Arab
(Tarbiyah), Jurusan Tafsir Hadis (Ushuluddin) dan Jurusan Akidah Filsafat
(Ushuluddin).

Memasuki tahun 2002, AL-AMIEN PRENDUAN memasuki usianya yang ke 50. Untuk
menyambut usia emas ini digelar peringatan Kesyukuran Setengah Abad Al-Amien
dengan aneka kegiatan yang berlangsung selama 20 hari lamanya. Pada
peringatan ini pula diresmikan MI Ponteg sebagai MI percontohan oleh
Mendiknas RI. Beberapa pengembangan terus dilakukan, diantaranya adalah
pendirian MTA Putri pada tahun 2006.

Setelah 18 tahun berjuang mengembangkan AL-AMIEN PRENDUAN, pada tanggal 15
Ramadhan 1428 KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA wafat dan meninggalkan amanah
pengembangan AL-AMIEN PRENDUAN kepada KH. Muhammad Idris Jauhari dan
kiai-kiai dan guru-guru yang lain. Patah tumbuh, hilang berganti. Demikian
pepatah menggambarkan bagaimana perkembangan Pondok Pesantren AL-AMIEN
PRENDUAN sejak didirikannya hingga saat ini.

Struktur Organisasi

Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN diurus dan dikelola secara kolektif oleh
beberapa Badan Pengurus yang terstruktur, sesuai dengan bidang tugasnya
masing-masing. Badan-badan pengurus tersebut bekerja sesuai dengan
prinsip-prinsip manajemen yang modern, efektif dan efisien tapi tetap
berpijak pada bingkai visi dan misi dan landasan-landasan AL-AMIEN PRENDUAN.
Secara hirarki organisatoris, kepengurusan tersebut bisa diuraikan sebagai
berikut :

*1. Badan Wakaf / Majlis Kiai (**Majlis Riasah al-Ma’had**)*

Majlis Kiai adalah badan tertinggi di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN
PRENDUAN, yang menentukan arah kebijakan pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN
baik ke dalam maupun keluar. Anggotanya dari 7 sampai 11 kiyai sepuh, dengan
struktur organisasinya terdiri dari ketua, wakil dan anggota. Ketua dan
wakil sekligus berfungsi sebagai pengasuh (Rais) dan wakil pengasuh (naib
rais) pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN, sedangkan anggota-anggota Majlis
Kyai berfungsi sebagai Direktur (mudir) di sentra-sentra pendidikan yang
ada. Khusus untuk menangani pengasuhan santriwati sehari-hari, Majlis Kyai
membentuk Dewan Pengasuh Putri yang terdiri dari nyai-nyai sepuh, istri
anggota Majlis Kyai.

*2. Badan Pendamping Kiai (**Majlis A’wan ar-Riasah**)*

Majlis A’wan adalah sebuah badan pengurus yang berfungsi sebagai pendamping
Majlis Kiai dalam melaksanakan program pondok sehari-hari. Anggotanya
terdiri dari 11 sampai 16 kiai-kiai muda atau ustadz-ustadz senior. Struktur
organisasinya terdiri dari Ketua, wakil, sekretaris, bendahara, koordinator
bidang (korbid) pendidikan, korbid dakwah, korbid kaderisasi sertakorbid
dana dan sarana. Sekretaris dan Bendahara Majlis A’wa sekaligus berfungsi
sebagai Sekretaris dan Bendahara Pondok Pesantren AL-AMIEN PRENDUAN.

*3. Yayasan AL-AMIEN PRENDUAN (**Mu’assasah Ma’had al-Amien al-Islami
Prenduan**)*

Yayasan ini berfungsi sebagai Pelaksana Harian seluruh program pondok yang
telah digariskan. Pengurusnya terdiri dari 17 sampai 25 guru senior dan
tokoh masyarakat dengan struktur organisasi sebagai berikut : Ketua, wakil
ketua, sekretaris, bendahara, Kepala Biro (Karo) pendidikan, karo dakwah,
karo kaderisasi dan karo dana sarana, karo pusat studi islam. Yayasan
dibentuk oleh dan bertanggung jawab langsung kepada Majlis Kiai pondok
pesantren AL-AMIEN PRENDUAN.

*4. Lembaga-lembaga dan unit-unit usaha* *(**Al-Ma’had wa Ulihdatul Amal**)*

Lembaga-lembaga dan unit-unit usaha ini sengaja didirikan untuk menunjang
terlaksananya program-program pondok secara maksimal. Terdiri dari
lembaga-lembaga pendidikan, lembaga-lembaga dakwah, lembaga-lembaga
kaderisasi, lembaga-lembaga ekonomi (dana dan sarana) serta lembaga-lembaga
penelitian. Seluruh lembaga dan unit usaha ini memiliki struktur sebagaimana
lazimnya organisasi yang terdiri dari Ketua, wakil, sekretaris dan bendahara
serta bagian-bagian tertentu yang sesuai dengan spesifikasi bidangnya.
Pengurus lembaga-lembaga serta unit usaha terdiri dari guru-guru, santri
senior dan profesional lainnya yang diperlukan.

Dewan Riasah

Majlis Kiai adalah badan tertinggi di lingkungan Pondok Pesantren AL-AMIEN
PRENDUAN, yang menentukan arah kebijakan pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN
baik ke dalam maupun keluar. Anggotanya dari 7 sampai 11 kiyai sepuh, dengan
struktur organisasinya terdiri dari ketua, wakil dan anggota. Ketua dan
wakil sekligus berfungsi sebagai pengasuh (Rais) dan wakil pengasuh (naib
rais) pondok pesantren AL-AMIEN PRENDUAN, sedangkan anggota-anggota Majlis
Kyai berfungsi sebagai Direktur (mudir) di sentra-sentra pendidikan yang
ada. Khusus untuk menangani pengasuhan santriwati sehari-hari, Majlis Kyai
membentuk Dewan Pengasuh Putri yang terdiri dari nyai-nyai sepuh, istri
anggota Majlis Kyai.

Saat ini struktur organisasi Dewan Riasah sebagai berikut :

1.       KH. Muhammad Idris Jauhari (Ketua/pengasuh)

2.       KH. Maktum Jauhari (Wakil ketua/wakil pengasuh)

3.       KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I (Sekretaris)

4.       KH. Zainullah Rais, Lc (Bendahara)

5.       KH. Fauzi Rasul, Lc (Anggota)

6.       KH. Bahri As’ad, S.Pd.I (Anggota)

7.       KH. A. Fauzi Tidjani, MA (Anggota)

Sedangkan struktur dewan pengasuh putri sebagai berikut :

1.     Ny. Dra. Hj. Anisah Fatimah Z (Ketua)

2.     Ny. Hj. Zahratul Wardah, BA (Wakil)

3.     Ny. Hj. Kinanah Syubli (Anggota)

4.     Ny. Hj. Nur Jalilah Dimyati, Lc (Anggota)

5.     Ny. Hj. Mamnunah Abdul Rahim (Anggota)

6.     Ny. Hj. Halimatus Sa’diyah (Anggota)

Struktur Majlis A’wan Riasah :

1.     KH. Moh. Fikri Husein, MA

2.     KH. Moh. Marzuqi Ma’ruf, Dip.Lal

3.     KH. Fadli Fatrah, S.Pd.I

4.     KH. Drs. Abu Shiri Shalehuddin

5.     KH. Drs. Saifurrahman Nawawi

6.     KH. Abdullah Zaini, Lc

7.     KH. Ridlo Sudiarto, M.Si

8.     KH. Mujammi A. Musyfi, Lc

9.     KH. Ach. Shobri Shiddiq, S.Pd.I

10.  KH. Drs. Abdurrahman As’ad

11.  KH. Ghozi Mubarok, M.Th.I

12.  KH. Muhajiri Musybah

13.  H. A. Taufiq Abd. Rahman

14.  H. Muhtadi, Lc. MA

15.  K. Bastomi Tibyan

Sumber: http://al-amien.ac.id/

-- 
"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality &
Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: ppiindia-digest@...
5. No-email/web only: ppiindia-nomail@...
6. kembali menerima email: ppiindia-normal@...

Gmane