Hilman | 9 Feb 04:32
Picon

Jiwa yang menolak patah

/*Mengapa ada orang yang mampu terus berjalan meski cobaan menghantamnya 
bertubi-tubi ? */
/*Namun kenapa juga yang lainnya justru patah, meski nampaknya ujian dan 
derita yang is terima relatif lebih ringan ?
*/Ada banyak sebab tentu. Tapi salah satunya adalah, karena orang-orang 
yang mampu melangkah terus, yang tidak mundur dan tidak berhenti, adalah 
orang-orang yang /*"kreatif".*/ Jiwa-jiwa mereka kreatif menemukan celah 
dan terobosan untuk menjaga diri agar tidak patah, agar tidak berhenti. 
Tentu, di dalamnya ada sebentuk cinta dari Allah swt, sehingga mereka 
menemukan kunci-kunci untuk tidak berhenti karena cobaan dan nestapa apa 
pun. Dan, kunci penyangga itu ternyata ada di mana-mana.

/*
*/

/*Ia Tidak Berhenti, Karena Cinta Ternyata di Sekelilingnya*/

Laki-laki itu pejabat tinggi suatu perusahaan swasta, berusia 40-an, 
belum menikah.

Beberapa tahun lalu, ia menuturkan kisah hidupnya yang paling rahasia 
dalam sebuah harian nasional, demi berbagi dengan seorang yang tertimpa 
pengalaman buruk mirip yang pernah ia alami. Laki-laki itu membaca dalam 
rubrik konsultasi, tentang anak muda yang merasa dirinya kotor dan 
hidupnya berakhir, karena menjadi korban pelecehan seksual temannya sendiri.

Ternyata, laki-laki 40-an tahun itu, semasa SD, pernah diperlakukan 
sama. Saat itu ia tengah berwisata di pantai bersama guru dan 
teman-teman sekolahnya. Tiba-tiba ia dipanggil beberapa kakak kelas. Ia 
menduga akan diajak bermain bersama. Ternyata, di tempat yang jauh dari 
keramaian, ia mengalami pelecehan seksual, di bawah todongan pisau. Ia 
sangat terpukul, hingga menangis terus dan mengubur diri di dalam pasir. 
Sampai sore datang, dan guru serta teman-teman lain yang mencarinya, 
menemukannya masih di dalam pasir, gemetar.

Bertahun-tahun ia mencoba melupakan peristiwa tragis itu. Ada masa di 
mana ia merasa sangat membenci para pelaku, yang masih kanak-kanak itu. 
Ada masa ia merasa tidak sanggup melihat orang lain. Namun pada akhirnya 
ia mencoba sesuatu yang amat sulit, memaafkan. Satu kata yang terus ia 
ucapkan hingga dewasa, "maafkan, maafkan." Ia menduga, mereka pun punya 
masa lalu yang kelam, boleh jadi mereka sebelumnya pernah pula menjadi 
korban.

Ternyata itulah yang menjadi titik balik ia membuka hatinya untuk 
melihat sisi lain dunianya. Sebelum "terbangun", ia tidak mampu membuka 
dirinya untuk orang-orang terdekat, untuk orang tuanya, untuk adik dan 
kakaknya yang kesemuanya sudah menikah. Hingga dewasa, ia amat penuh 
dengan laranya sendiri, dan kehilangan waktu untuk peduli pada 
lingkungannya. Ia tenggelam dalam dunia kerja, menghasilkan uang 
berlimpah, yang tak kunjung membuatnya "sembuh".

Kemudian, sewaktu ia memberi perhatian dan kasih sayang pada 
keluarganya, terutama pada para keponakannya, ia menemukan mutiara cinta 
ternyata ada di mana-mana. Kini, setiap ia datang ke rumah 
saudara-saudaranya, anak-anak mereka menyambutnya dengan kegembiraan 
yang polos. Di sanalah, ia merasa bisa berlabuh, menemukan 
kebahagiaannya, menemukan kesembuhannya. Malah, oleh keluarganya, ia 
dijadikan "kepala" keluarga, termasuk oleh ayah ibunya. Ternyata, mereka 
telah lama memendam cinta untuknya. Laki-laki itu pun tidak kalah, 
jiwanya menolak untuk patah, karena cinta ternyata ada di sekelilingnya.

/*Ia tidak Berhenti, Karena Memilih Tegak Meski Tertatih-tatih*/

Betapa kerasnya kehidupan di ibukota. Ini tidak dipungkiri siapa pun. 
Namun, di Jakarta pula, kita bisa menemukan manusia-manusia yang mampu 
tegak, meski hidupnya diselang-selingi "kejutan" yang tak nyaman. Di 
halte pasar di bilangan Tebet Timur, Jakarta Selatan, misalnya. Sepasang 
suami istri sejak belasan tahun berdiam di kios rokok dan minuman dingin 
yang sekaligus dijadikan tempat tinggalnya.

Modal yang seadanya, masih harus menanggung hutang para awak bus yang 
kerap mangkal di sana. Mereka pun masih harus membayar berbagai pungutan 
demi keamanan. Termasuk ke pejabat lokal, demi perijinan. Semua itu, 
bahkan sudah dijalani sang istri sejak ibunya masih hidup. Ia dibawa 
ibunya merantau ke Jakarta sejak kanak-kanak. Dan, kios itu adalah 
warisan ibunya, sebelum wafat. "Jenazah si Mbok kami bawa ke desa, di 
sana kan ada kuburan desa. Biaya merawatnya lebih murah. Kalau di sini 
mahal, nggak sanggup bayar," tuturnya.

Siang itu, percakapan rutin terdengar di halte. "Kapan utangnya dibayar? 
Udah banyak nih, udah 30 ribu," tutur sang istri pada seorang supir, 
yang tengah memarkir busnya di depan halte. Sang awak nampak terkejut, 
seolah tak percaya. "Masak sebanyak itu?" Perempuan itu melanjutkan, 
"Ini ada catatannya." Suaminya, yang tengah beristirahat di dalam kios, 
terbangun dan membenarkan istrinya. "Yah, nanti dibayar," itulah 
akhirnya jawaban sang awak bus. "Kalau begini terus, modalnya bisa 
habis," ujar perempuan itu perlahan.

Meski sehari-hari harus hidup amat prihatin, namun seperti diakui 
perempuan itu, ia merasa masih mampu bertahan. "Memang pemasukan sedikit 
sekali, kami sering terpaksa makan apa adanya, tapi kami masih bisa 
bertahan. Di kota besar kayak Jakarta, itu sudah bagus kok," ujar sang 
istri.

Demikianlah. Meski tersendat-sendat, mereka sudah memilih.

/*Ia Tidak Berhenti, Karena Harus Menjadi Pelita Lingkungan*/

Boleh jadi, pilihan untuk tidak berhenti, didesak pula oleh lingkungan. 
Namun, tidak semua orang menyambut desakan ini. Waras Soebroto, penduduk 
desa Kedung Rejo, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah orang 
yang mengambil desakan ini. Hasilnya, ia melangkah terus, dan memberi 
arti positif buat lingkungannya.

Waras sudah bekerja selama belasan tahun sebagai petugas pengawas hutan 
lindung. Setiap bulan, ia hanya dibayar 3000 (tiga ribu) rupiah. Ia amat 
prihatin dengan kondisi suaka alam di Banyuwangi, yang dijarah para 
penebang liar. Inilah awal mulanya Waras merasa harus melakukan sesuatu: 
total melindungi suaka alam dengan segala kemampuannya, dengan semua 
waktu yang ia punya. Termasuk "memerangi" penebangan liar. Resikonya, ia 
sering menghadapi ancaman dari penebang liar dan pencuri kayu, bahkan 
kerap diisukan akan diguna-guna.

Meski begitu, Waras tidak mundur. Ia merasa tidak boleh mundur, karena 
lingkungannya akan tambah hancur jika ia memilih jalan itu. Secara 
kontinyu Waras malah mencoba meyakinkan masyarakat, tentang pentingnya 
menjaga suaka alam. Ia terus membangun kesadaran kolektif. Tidak 
tanggung-tanggung, Waras akhirnya berhasil mengamankan 6 lokasi suaka 
alam di daerah Banyuwangi.

Pilihan serupa diambil pula La Ode Muhammad. Ia hanyalah satu dari 
banyak penduduk Desa Wantimoro, Kecamatan Kabawo, Muna, Sulawesi 
Tenggara. Mulanya, La Ode bersama warga Suku Bajo di kampung Wantimoro 
tinggal di laut, di atas perahu bido. Suku Bajo memang menjadikan laut 
sebagai sumber pencaharian, bahkan sebagai tempat berkelana. Namun, 
kehidupan mereka lama-kelamaan terjepit, akibat potensi ikan makin merosot.

Dalam situasi ini, kekhawatiran soal masa depan menghinggapi mereka. 
Hingga La Ode tersadar, ia mesti melakukan sesuatu. Lantas, ia mengajak 
suku Bajo untuk menetap di darat dan bertani dengan pola sanitasi. 
Mereka berhasil. Ratusan kepala keluarga telah mengubah pola hidupnya, 
dan mereka mampu bertahan, bahkan tingkat ekonominya terus membaik. 
Warga menganggap La Ode Muhammad sebagai pelita lingkungannya. Bagi La 
Ode dan Waras, mereka tidak kalah justru karena lingkungannya.

/*Ia Tidak Berhenti, Karena Ia Punya Mimpi*/

Namanya Az Zamakhsyari. Ia seorang ulama terkenal, ahli dalam banyak 
ilmu pengetahuan agama. Namun, ia lebih terkenal sebagai tokoh ilmu 
/nahwu/ (gramatika bahasa Arab). Menjadi ahli dalam ilmu bahasa bagi Az 
Zamakhsyari adalah keberhasilan yang boleh dibilang sebagai prestasi dan 
kesuksesan luar biasa dalam menghadapi rintangan. Betapa tidak, sejak 
kecil ia telah mempelajari ilmu /nahwu/, tetapi hingga menginjak remaja 
ia tak kunjung paham dengan ilmu yang dipelajarinya.

Bayangkan, selama bertahun-tahun belajar untuk membedakan antara subyek 
(/mubtada/) dan obyek (/khabar/) saja ia tidak bisa. Sementara 
teman-temannya, hampir semuanya telah mengusai ilmu itu. Bahkan ada di 
antara mereka yang diberi tugas untuk mengajar adik-adik kelas mereka.

Kenyataan ini nyaris membuat Az Zamakhsyari putus asa. Ia merasa malu 
dengan usianya yang semakin tua tetapi belum tahu apa-apa, apalagi ia 
harus duduk dan belajar bersama anak-anak yang jauh di bawah usianya. Di 
tengah kegalauannya ia berniat meninggalkan sekolah, pergi merantau 
untuk mencari ilmu di tempat lain.

Setelah cukup jauh berjalan, ia mampir berteduh di sebuah rumah. Ketika 
sedang beristirahat sambil menyandarkan punggungnya di tembok, ia 
melihat seekor semut kecil sedang menggigit sisa kulit korma. Semut itu 
berusaha menarik kulit korma yang ukurannya lima kali lipat lebih besar 
dari tubuhnya, ke lubang di tembok itu. Berkalikali ia melakukannya 
namun selalu gagal, kulit korma selalu jatuh ke tanah. Az Zamakhsyari 
terpaku melihat kelakuan semut itu, yang mempunyai keuletan mengagumkan.

Setelah berkali-kali gagal, ternyata sang semut berhasil membawa naik 
kulit korma itu. Saat itu muncullah pemikiran dalam benak Az 
Zamakhsyari, "Seandainya aku melakukan seperti yang dilakukan semut ini 
niscaya aku juga akan berhasil." Setelah mengucapkan itu, ia memutuskan 
kembali ke sekolahnya dan membatalkan niatnya untuk merantau. Hasilnya, 
Az Zamakhsyari benar-benar meraih impiannya. Ia menguasai ilmunya 
sedemikian rupa. Bahkan, ia menjadi tokoh nahwu yang sangat disegani.

Mimpi dan cita-cita, yang di dalamnya termaktub tekad, semangat dan 
kerja, memang seringkali membuat orang tidak mau berhenti. Bahkan, 
seekor semut pun, menghayati semangat ini. Apatah lagi, kita, manusia.

/*Ia Tidak Berhenti, Karena Batinnya Kaya*/

Seorang perempuan kurus berkulit gelap tampak duduk di depan "rumahnya" 
di sebuah pojok Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan. Dari cangkir 
plastik yang tak lagi bersih, ia menikmati betul seruputan demi 
seruputan kopi hangat. "Rumah" perempuan itu hanya susunan papan 
berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang berasal dari kotak kayu yang biasa 
ditemukan di pasar, ada pula yang memanjang. Bagian yang menjadi atap 
rumah ditutupi selembar terpal warna biru untuk menghalangi kucuran air 
saat hujan datang. Antara atap dan lantai hanya ada jarak satu meter. 
Karenanya, setiap kali keluar masuk "rumahnya" perempuan itu harus 
membungkuk-bungkuk.

Di ambang pintu yang rendah, sebuah papan penggilasan pakaian dipasang 
sebagai jembatan. Di bawahnya, selokan kecil meliuk mengalirkan air 
berwarna hitam kehijauan. Dalam keterbatasan ruang di halaman yang 
lebarnya hanya setengah meter, ia tampak berusaha mempercantiknya dengan 
lima pot tanaman yang terbuat dari bekas wadah cat tembok. Kelimanya 
diatur berjajar memanjang. Jadilah gerbang. Sayangnya, daun-daun tanaman 
dalam pot itu nyaris habis dipatuki ayam peliharaannya yang tak banyak 
jumlahnya.

Maryati, nama perempuan itu. Wajahnya sudah berkerut-kerut meski usianya 
belum genap 40 tahun. "Saya sudah 25 tahun tinggal di sini," katanya 
sambil menyebut usianya sendiri, 37 tahun. Ia tinggal bersama suaminya. 
Karena sempit, Maryati hampir setiap malam tidur di luar rumah. 
Beralaskan karung dan selembar kain. Kadang tidur di "halaman" dan 
kadang tidur di atas tumpukan rangka besi besar di samping "rumah".

"Syukurlah ada besi-besi itu. Kalau air sungai meluap ya cukup 
terlindungilah, enggak hanyut," kata Maryati. Meski harus tinggal di 
"rumah" sempit di lokasi yang tak sewajarnya, dalam setiap 
pembicaraannya Maryati selalu mengucap syukur. "Alhamdulillah, saya 
masih punya rumah. Kalau enggak di sini, mau di mana lagi? Di kampung 
saya di Indramayu saja masih tinggal di rumah saudara," katanya. 
"Maklumlah, orang kecil," lanjutnya.

Untuk hidup sehari-hari, Maryati berjualan sayur di dekat terowongan 
Manggarai. Setiap bulan ia mengirim sedikit uang untuk dua anaknya di 
kampung. Sekali dalam dua hari, Maryati biasa pergi ke Pasar Induk 
Kramat Jati atau Pasar Minggu. "Beli cabai, tomat, sayur juga," katanya. 
Namanya berjualan, risiko rugi sudah sangat dia pahami tanpa mengeluh. 
"Nggak apa-apa kalau rugi, udah risiko," begitu ia menyebut.

Penghasilannya yang minim masih harus dikurangi untuk biaya hidup rutin 
yang tak bisa dia hindari, misalnya untuk mandi, mencuci, dan buang 
hajat di WC umum. "Kami mandi bayar di kamar mandi umum, air juga harus 
beli," ujar Maryati, yang lagi-lagi mengucapkan syukur sewaktu 
menceritakan ada penghasilan tambahan selain berjualan sayur.

Meski hidup serba prihatin dan mesti menghadapi berbagai situasi yang 
tidak nyaman, Maryati tak goyah. Ia tetap tinggal di gubuk kecilnya. 
Tetap berjalan terus mencari nafkah, bahkan tetap berbagi rejeki dengan 
keluarganya di desa. Keyakinannya, kalau memelihara waktu-waktu shalat 
ia akan selalu aman. "Kalau kita shalat lima waktu, pasti aman deh," 
katanya sambil tersenyum.

Melihat Maryati, kita serasa melihat potret kekayaan batin. Ini adalah 
kekayaan hakiki, yang membuat manusia tidak patah, tidak kalah. Sampai 
kapan pun. Wallahu'alam

/http://beranda.blogsome.com/2009/01/13/jiwa-yang-menolak-patah//


Gmane